Tadi siang harus jalan ke Ambassador mall untuk beli switch sebanyak dua buah. Sampai disana, lihat-lihat sebentar, cari harga yang cocok, jadi deh di salah satu toko di lantai dua. Setelah sedikit terjadi tawar menawar maka jadilah harga 170 ribu sebuah. Aku tunggu lagi sebentar, dibungkusin tuh barangnya, lalu Mbaknya nanya, “Notanya mau ditulis berapa Mas??”. Duenggg…. agak terkejut dengan pertanyaan Mbaknya, kujawab aja “ya sesuai harganya Mbak…” sambil dalam hati merasa sedikit tersinggung, “Emangya tampangku kayak orang yang suka korupsi ya Mbak??”
Setelah keluar dari toko jadi berpikir, ternyata inilah gambaran umum masyarakat kita. Sebegitu gampangnya korupsi terjadi. Korupsi aja ditawari coba!! Dari sini aku coba mengambil hikmahnya. Pertama, bahwa korupsi itu ada dua macam yaitu korupsi aktif dan korupsi pasif. Yang kedua adalah benar seperti yang dibilang ulama-ulama bahwa setan tuh banyak sekali caranya untuk menjerumuskan manusia sebagai pengikut golongannya. Untung saja aku masih bisa berpikir normal dan rasional, serta sedikit idealisme yang tersisa yang membuatku menolak korupsi yang ada di depan mata. Dan yang terakhir -mungkin ini sedikit utopia- adalah ternyata masyarakat kita masih jauh dari yang namanya masyarakat Islami. Jadi semakin berpikir bahwa masyarakat ideal, masyarakat Islami itu hanya ada dalam impian belaka atau setidaknya masih dalam cita-cita yang entah kapan akan terwujud.
Ya… memang aku gak bisa menyalahkan secara langsung Mbaknya penjaga toko tadi. Mungkin dia juga sudah terbiasa dengan pelanggan yang ingin me-mark up notanya, sehingga dia otomatis secara reflek menawarkan pe-mark up-an nota pembelian kepada setiap pelanggan yang datang.
*Jadi ingat perkataan bang napi,”Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat dari sang pelaku tetapi juga karena adanya kesempatan… waspadalah… waspadalah…!!”

